8 Mei 2013

Seperti Musuh Dalam Selimut



Kecil jadi kawan besar jadi lawan. Petuah itu memang benar adanya. Saatnya mulai belajar dari pengalaman, waspada diri.
Adakalanya kita tidak begitu menyadari betapa besar efek yang ditimbulkan kalau sampai terlena barang sedetikpun…tidak akan bisa membayangkan kengerian yang merundung jiwa.
Sebenarnya bukan bermaksut curhat, tetapi berdasarkan kenyataan yang seringkali ditemui berkali-kali, saya ingin membagi pengalaman agar kejadian itu tidak akan terulang lagi pada orang lain.


Gambar : dari sini
Air sebagai kebutuhan vital kehidupan manusia. Jika berjalan pada tempatnya dan memanfaatkan sesuai kebutuhan. Namun sering yang terjadi kita mengabaikan hal sepele. Tidak menghargai dan memanfaatkan keberadaan air. Contoh sederhana:pernahkah melihat keran yang mengucur terus, meski bak air penuh ? Merebus air terlalu lama hingga air menjadi asat/berkurang. Menghambur-hamburkan air dengan bermain air pancur. (wah,kalau ini anak-anak kecil pasti yang senang bermain ^_^ )
Tetapi ada hal lain yang ingin saya ulas lebih. Seperti pernahkah terpikir untuk mengeringkan tuntas sisa dari mencuci tangan. Atau lap kering tubuh setelah mandi. Mungkin untuk tipe orang yang grusa-grusu atau terburu-buru macam saya tidak bakalan mengerti kalau belum mengalami kejadian yang bikin syok.
Seperti, yang saya alami beberapa hari. Inginnya membersihkan kerak pada penampang alat Magic Jar. Tentunya ingin lebih kelihatan mengilap dan bersih harus dipoles bersih dengan sabun. Alih-alih ingin hasil tampak maksimal, tahu apa yang terjadi…saya pikir semua tempat sudah saya bereskan dan jadi kering, saat saya masukkan lagi (saya menanak beras) tiba-tiba seperti tersengat ratusan tawon. Waduh sekujur tubuh langsung lemas, serasa pingsan. Baru kemudian tersadar, ternyata tangan saya masih basah, dan alat di dalam Magic pun belum kering, benar mengingat saya membersihkan sampai menjorok ke dalam.
Setelah mengalami "kejutan listrik" beberapa lama kemudian seperti mengingatkan pada peristiwa lampau. Peristiwa yang terkubur lama, silih berganti muncul. Persis slide film.Hikks.
Peristiwa pertama, ketika saya duduk dibangku TK. Pak Bon (penjaga kebon) pada saat itu ramai diberitakan. Pagi-pagi sekali, semua warga dihebohkan meledaknya gardu listrik dekat masjid di pertigaan jalan. Ternyata tubuh Pak Bon sudah menggelantung hitam pekat diatas kabel listrik. Saya melihatnya, kebetulan rumah saya berjarak sekitar 5 deret rumah (lokasi :rumah Krapyak Semarang). Penuh ketakutan tapi tidak jelas mengerti apa yang terjadi. 

Ada lagi kejadian, ibunda sahabat di SD juga mengalami musibah, terkena sengatan listrik saat mau setrika baju. Yang bikin hati miris dan merasa kasihan, teman saya menjadi anak piatu,akhirnya.

Trauma juga datang dari keluarga, saat tante saya membeli kulkas. Entah bagaimana kejadiannya, tiba-tiba kulkas itu jatuh menimpa tubuh tante. Bisa kebayang,kan. Bagian belakang kulkas jaman dulu (seingat saya,ada seperti palang besi begitu) panasnya menyengat tubuh. Kontan saja tante berteriak histeris. Sekeluarga jadi kalang kabut. Alhamdullilah, masih untung tidak menjadi korban parah.

Ada juga teman jemaah ayah, selagi bersiap menunaikan ibadah Jumat, anak yang paling bontot merengek-rengek minta TV disetel.Mungkin terburu-buru, tanpa pikir panjang lagi langsung menuruti keinginan anaknya nonton televisi. Sungguh tidak dinyana, ternyata Bapak itu bernasib malang. Gara-gara kesetrum, tubuhnya tidak tertolong lagi. Membuat kami sekeluarga kaget bagai disambar petir di siang bolong.

Mungkin juga, gara-gara mengalami kejutan listrik yang tak terduga sama sekali membuat diri jadi trauma. Malahan trauma yang menjadi phobia. Sedikit-dikit gemetaran, cemas, dan jadi panik jika hendak bersentuhan dengan kabel listrik : mau ngejus pakai blender bingung. Takut mengecharge ponsel. Ngeri juga mau menancepkan kontak setrika. Lhaaa...terus kok makin kesininya tambah merugikan diri sendiri.

Akhirnya, mau tidak mau, saya memaksakan diri harus bisa keluar dari kungkungan rasa takut yang berlebihan ini. Mulai sejak sekarang, mengingatkan dan menancapkan pemikiran "KUDU WASPADA, HATI-HATI"!!!
 Perlu memberikan motivasi diri pula , pesan yang terus tersemat di pikiran mengantisipasi kejadian tidak terulang kembali dengan. Jadi berikut tip sederhana ala saya untuk mencegah level tersetrum listrik di rumah :
1. Harus benar-benar mengeringkan sisa dari cuci muka, tangan, kaki setelah mandi atau beraktifitas lain.
2. Sebisa mungkin memakai alas, jika mau kontak dengan kabel listrik dan peralatan elektronik lainnya.
3. Tidak memasang sambungan listrik sampai penuh.
4. Sebisa mungkin melepaskan steker listrik jika alat seperti ponsel, mesin cuci sudah selesai bekerja.
Andai kata terjadi hal terburuk, Ingat : JANGAN PANIK. Cari sumber listrik terdekat dan segera matikan segera.
Kabel semrawut ini tampak berbahaya.
Tidak baik untuk ditiru : sini


9 komentar:

  1. Mbaa kejadian yang sama mungkin hampir menimpa thifa kemaren. JAdi ceritanya tvku remotnya rusak dan untuk ngecilin volume yang nempel di tipi itupun bolong, jadi kalo mau ngecilin volume disogk2 pake obeng. Mungkin tifa karena liat ortunya begitu pas pengen nonton tipi dia sogok2 itu bolongan pake obeng, langsung njeprte mati lampu, korslet, untung tipa ngga kesetrum, tivi sekarang rusak belum bisa dinyalakan hiks

    BalasHapus
  2. Rahmi :Masyaaalah Thifaaa...hikks bikin sport jantung deh.Bagaimana gak apa2 kan,lain kali dibuang saja ganti yang baru mbaak. Peluk n kiss Thifa :)

    BalasHapus
  3. seringnya sih nyenggol CPU dikantor pas habis dari toilet,, kaki masih basah demen banget nyeker,, jadilah dikasih kejutan listrik.. :(

    Makasih infonya mbak...jadi mengingatkan saya agar lebih waspada dan tidak menganggap sepele hal tersebut.

    BalasHapus
  4. Hati2 jeng
    Utamanya juga anak-anak yang hobi bermain jangan sampai menyentuh benda berbahaya ya
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  5. Novi : iya mbak Novi biasanya kalau sudah mengalami peristiwa pasti akan selalu terngiang-ngiang di benak kita. Thks sdh berkoment disini :)
    Pakde : Terima kasih juga atas supportnya ya'Dhe. Salam hangat juga dari Kudus yang lagi hujan :)

    BalasHapus
  6. Aku pernah, Mak, kesetrum hiks. Terima kasih tipsnya. Jadi tambah waspada. makin seneng, deh, mampir kemari. Banyak info bermanfaat. Btw, kalo boleh tahu, kenapa nama blognya "makbandot", Mak? :D

    BalasHapus
  7. Haya : Terimakasih sudah mampir kemari mak Haya yang cakep, seneng juga bisa berbagi pengalaman sama teman2 tercinta. Ada ceritanya kok, tuh intipin di artikel populer yaa ;)

    BalasHapus
  8. Di televisi sering diberitakan peristiwa kebakaran yang menhabiskan rumah penduduk. Kasihan melihatnya.
    Kita memang harus hati-hati dengan benda-benda yang mudah terbakar ya mbak.

    Terima kasih sudah diingatkan.

    Salam dari Surabaya

    BalasHapus
  9. Sandy : terimakasih juga sudah mau berbagi info. Iya mbak kita harus selalu waspada juga sebagai ortu tentunya :)

    BalasHapus

Terimakasih sudah mampir dan berkomentar, insyaalah saya akan berkunjung balik. Sukses selalu :)